• Stay Connected
  • /

Sebarkan jika bermanfaat:


Mari Belajar Mengakui Kesalahan Kita

image Suaranews - Seperti biasa, saat pagi jalan-jalan cukup ramai. Tampak seorang pengemudi mobil ditemani seseorang di sampingnya, melarikan mobilnya amat kencang. Begitu kencangnya, hingga nyaris kehilangan kendali. Guna menyelamatkan diri, ia terpaksa harus meyalip motor yang ada di depannya.

Pengendara yang disalip atau dilewati itu, yang kebetulan membonceng anak kecil langsung terperangah, kaget, seraya menumpahkan sumpah serapahnya. Sadar dengan kejadian tadi, pengemudi mobil itu menurunkan kecepatannya. Kondisi itu dimanfaatkan sang pengendara motor untuk mengejarnya, agar leluasa meluapkan amarahnya.

Usai menerima buncahan kemarahan, pengendara motor, sang sopir kembali menaikkan kecepatannya. Bukan untuk ngebut lagi, tapi agar ia bisa melewati motor tersebut. Karena setelah mobilya berada di depan motor, ternyata ia menghentikan mobilnya, lalu turun, dan menyetop si pengendara motor. Melihat kejadian itu, teman si sopir sudah ketar-ketir khawatir terjadi perkelahian besar-besaran seperti yang kerap terjadi di jalan-jalan.

Tapi, rupanya dugaannya meleset, karena begitu motor berhenti, ternyata sopir tadi justru menjulurkan tangannya, seraya mengakui kesalahan yang sudah diperbuatnya dan meminta maaf kepada si pengendara motor. Subhanallah.

Di tengah banyak orang yang sangat berat mengakui kesalahan, bahkan amat mahir dalam berapologetik dan mencari segudang alas an pembenaran atas kesalahan yang sudah dilakukannya, peristiwa di atas bisa menjadi pelajaran indah. Bukan menghindar atau lari dari kesalahan yang diperbuatnya, melainkan berani meminta maaf atas kesalahan yang dilakukan. Ia menafikkan beragam fenomena perilaku criminal yang amat lihai berkelit dengan sejumlah alibi.

Padahal, kesaradan seseorang untuk mengakui kesalahan adalah mutiara berharga yang mengantarkan diriya memiliki sikap tawadhu’, yang dijanjikan Nabi: “Tidaklah orang itu tawadhu’ karena Allah, kecuali Allah akan meninggikannya,” (HR. Muslim)

Itulah akhlak yang dimiliki oleh orang-orang shaleh, yang sangat ringan dalam mengakui kesalahan. Kita lihat misalnya Ka’ab, Murarah dan Hilal yang tak ikut perang Tabuk. Jua Ma’iz bin Malik atau seorang wanita Ghamidiyah yang langsung menghadap Nabi dan dengan terang-terangan mengaku berzina, seraya siap menerima segala risiko dari pertobatannya itu demi membersihkan dirinya sehingga bisa menemui Rabbnya dengan tanpa noda.

Takut posisi dan kehormatannya rusak, bolah jadi itulah factor yang menghalangi seseorang untuk mengakui kesalahan. Padahal, tak harus demikian, malah dengan menyadari dan mengakui kesalahannya bisa menaikkan kehormatan dan integritas diri seseorang. Abul Hasan Al-Asy’ari, misalnya, mantan imam besar Mazhab Mu’tazilah. Saat ia sadar bahwa haluan pemikiran yang di ikutinya salah, Abul Hasan pun mempublikasikannya di hadapan public.

Dengan pengakuan tersebut, tak membuat derajatnya surut, tapi justru menjadikanya sebagai tonggak utama dalam pengokohan pilar-pilar akhidah umat. Harus diakui, untuk pertama kalinya dalam sejarah, julukan “ahlus sunnah” itu disematkan kepada kelompok Asy’ariyah.

Oleh: Ustadz Makmun Nawawi (judul asil Belajar Mengakui Kesalahan)




Artikel Dan Berita Lainnya:



"Mari Belajar Mengakui Kesalahan Kita"

Twit This!
Mari Belajar Mengakui Kesalahan Kita Mari Belajar Mengakui Kesalahan Kita dengan url http://www.suaranews.com/2011/10/mari-belajar-mengakui-kesalahan-kita.html, Anda diperkenankan untuk menyebarkan jika Mari Belajar Mengakui Kesalahan Kita ini bermanfaat bagi semua teman-teman, jangan lupa untuk meletakkan link Mari Belajar Mengakui Kesalahan Kita sebagai sumbernya.

Posted by: Suaranews Admin on 07.43. Filed under , . Anda Bisa mengikuti berita melalui feed ataupun berkomentar dengan cepat RSS 2.0

0 komentar for Mari Belajar Mengakui Kesalahan Kita

Leave comment

alt/text gambar alt/text gambar alt/text gambar alt/text gambar alt/text gambar alt/text gambar

Recent Entries

BERITA TOP

selintas