Share
Tujuh Warga Uighur Dibunuh Oleh Polisi Cina
Suaranews - Polisi di wilayah Uighur yang saat ini masih termasuk wilayah yang bergolak di Cina perbatasan Asia Tengah, menembak tujuh warga Uighur pada kamis kemarin (29/12). Alasan polisi Cina tersebut adalah karena tujuh warga Uighur menghambat proses penyelamatan atas penyanderaan dalam sebuah penculikan. Tetapi kelompok Hak Asasi menolak alasan tersebut, dan menyatakan tidakkan kepolisian Cina tersebut sangat berlebihan.
Seorang pejabat polisi mengatakan pada sebuah situs pemerintahan Cina, bahwa polisi melepaskan tembakan setelah mereka mengalami hambatan dalam serangan pada Rabu malam disebuah tempat persembunyian di gunung luar kota Hotan, untuk membebaskan dua orang yang telah diculik.
Selain tujuh orang mati, empat terluka parah dan empat yang lain ditangkap oleh polisi Cina. Dan Polisi Cina berhasil membebaskan dua sandera, seorang petugas polisi tewas dan lainnya juga terluka. Ungkap laman resmi Pemerintahan Xinjiang pada daerah tempat kejadian berlangsung. Seorang juru bicara pemerintah Cina didaerah Xinjiang mengonfirmasi telah mengindentifikasi para penculik dan sandera mereka sebagai warga Uighur, yaitu kelompok dan etnis penduduk asli cina yang beragama Islam.
Polisi masih belum menemukan motif yang jelas mengenai kasus penculikan tersebut, polisi hanya menduga mereka mempunyai jaringan sebuah organisasi teroris.
"Mereka memegang senata, dan mereka melukai polisi setempat," kata juru bicara, Hou Hanmin.
Pihak berwenang Cina seringkali menyalahkan militan keturunan Uighur untuk berbagai kekerasan di Xinjiang dalam beberapa tahun terakhir.
Etnis Uighur Turki berbahasa, budaya dan agama yang berbeda dari penduduk mayoritas China Han.
Beijing mengatakan militan Uighur sering pergi keluar negeri dan mempunyai jaringan yang luas dengan berbagai jaringan teroris, termasuk pada jaringan Gerakan Islam Turkistan Timur yang diduga lokomotif pergerakannn militan di Pakistan.
Akibatnya cina telah sering melakukan berbagai kekerasan secara sporadis dengan meningkatkan pengamanan kepolisian diwilayah tersebut, mereka melakukan berbagai penggerebekan, mereka juga membatasi ibadah umat Islam hingga mereka juga mengasingkan umat Islam warga Uighur dan akhirnya terjadi ketegangan antara warga Muslim Uighur dengan kepolisian.
Langkah keamanan polisi yang memperketat patroli dan membatasi waktu dengan menggunakan jam malam didaerah bermasalah dan juga pemeriksaan identitas serta pencarian jalan yang membingungkan untuk beberapa orang serta kendaraannya. Hal ini sama saja menggunakan cara untuk menindas.
Serangan Rabu di Hotan adalah alasan untuk lebih menindas warga Uighur kata Dilxat Raxit, juru bicara Uighur Dunia yang berbasis di Jerman. Dilxat mengatakan bahwa orang Uighur di daerah yang telah ada sambungan telphon, sering dihubungi melalui telephon dan menginformasikan bahwa angka korban tewas sangat tinggi dan mereka mengatakan bahwa polisi juga menita ponsil untuk mencegah adanya hubungan dan informasi serta pesan singkat (SMS) dan foto yang bisa keluar dari Cina menunjukkan berbagai kekejaman polisi Cina.
"Para Uighur tidak bisa bebas di tanah air mereka sendiri di Cina," kata Dilxat.
Setiap kali mencul konflik pihak berwenang china selalu menggunakan cara yang luar biasa, yaitu dengan berbagai cara kekerasan.
Aktivis Uighur mengatakan bahwa penumpasan warga Uighur hanya akan mendatangkan kemarahan yang memuncak antara warga Uighur yang telah menuduh pemerintah bertindak represif dalam membatasi agama mereka serta aspirasi politik mereka. Masyarakat Uighur juga merasa kurang beruntung dengan pembatasan tersebut, sehingga mereka tidak dapat meningkatkan perekonomian mereka selayaknya masyarakat Han yang semakin tinggi tingkat perekonomian mereka.(io/suaranews)
Jika anda menyukai berita "Tujuh Warga Uighur Dibunuh Oleh Polisi Cina" silahkan dikirimkan kepada teman-teman anda melalui beberapa situs jejaring dibawah ini
