• Stay Connected
  • /

Sebarkan jika bermanfaat:


Budaya Bangsa Arab: Falconry Melampaui Olahraga Dan Seni

Falconry olahraga burung elang Elang telah menjadi identitas nasional bangsa Arab, bahkan Uni Emirat Arab dan Arab Saudi mengeluarkan paspor khusus bagi pegiat falconry.

Burung elang adalah salah satu predator terbaik yang mampu menangkap mangsanya dengan cara eksotis, terbang melayang lalu tiba-tiba menukik dengan kecepatan tinggi, menyambar secepat kilat hewan malang di atas tanah maupun di permukaan air. Kemampuan inilah yang kemudian dieskploitasi manusia untuk mengembangkan seni berburu unik, falconry, istilah dalam bahasa Inggris bagi seni berburu binatang liar menggunakan burung pemangsa terlatih, seperti elang (falcon) atau rajawali (hawk). Para falconer, sebutan untuk pegiat falconry, biasanya menempuh perjalanan dengan berjalan kaki, menunggang kuda atau unta baik sendirian maupun rombongan, dengan membawa burung elang yang bertengger di lengan mereka. Yordania, Pakistan, Rusia, dan Turkmenistan adalah tempat favorit para falconer. Mereka berburu burung gagak, kelinci, rubah, serigala, burung kuau, atau burung houbara (sejenis burung besar yang tidak dapat terbang). Ketika melihat hewan buruan, burung pemangsa para falconer akan terbang menuju hewan buruan, menukik, dan mencengkeram hewan buruan dengan cakarnya dan membawanya pada falconer.

Asal-muasal falconry masih misteri. Namun, sejumlah catatan kuat menuliskan bahwa falconry sudah dikenal sejak 4.000 tahun lalu di Asia Tengah dan Persia dan oleh orang-orang Arab, setidaknya sejak 18 abad silam.

Kaisar Romawi Suci Frederick II dari Hohenstaufen pernah menulis sebuah buku tentang falconry yang berjudul Ars Venandi cum Avibus (Seni Berburu dengan Burung) pada 1241. Frederick tampaknya menulis buku tersebut setelah membaca risalah falconry yang lebih dulu muncul dari dunia Arab, yaitu Kitab Dawari al-Tayr (Buku Tentang Burung Pemangsa) yang ditulis oleh al-Ghitrif bin Qudamah al-Ghassani, pemburu ahli pada zaman Dinasti Umayyah pada 780 Masehi.

Elang, seperti banyak spesies burung lainnya, melewati Jazirah Arab saat melakukan migrasi tahunan dari Afrika menuju Asia. Dahulu kala, suku Badui mengambil keuntungan dari keadaan itu dengan memanfaatkan elang sebagai alat berburu untuk menyediakan daging bagi keluarga mereka selama musim dingin.
Mereka menjebak sejumlah elang muda dengan menggunakan perangkap pada saat burung-burung tersebut bermigrasi, untuk kemudian dilatih menjadi pemburu andal. Selain untuk memenuhi kebutuhan pangan, ekspedisi berburu menggunakan elang digunakan para pemimpin suku untuk bisa memantau situasi terbaru di wilayah mereka.

Dari berbagai spesies elang, hanya dua yang digunakan untuk berburu, khususnya di jazirah Arab, yaitu elang Saker dengan bulu fleksibel, insting kuat, dan daya tahan yang luar biasa. Yang lainnya, adalah elang jenis Peregrine, elang Gyr yang berasal dari Artik yang memiliki kecepatan tinggi dan agresif.
Sementara itu, orang-orang Mongol berburu dengan menggunakan elang emas dan orang Jerman menggunakan burung rajawali jenis Goshawk.

Saat ini, falconry menjadi warisan budaya orang-orang Arab, bahkan Uni Emirat Arab (UEA) menggunakan elang sebagai lambang nasional dan mengeluarkan paspor khusus untuk para pegiat falconry yang kemudian diikuti oleh Arab Saudi.

Sejak lama, falconry telah menjadi tradisi turun temurun. Muhammad Ahmad al-Bowardi, presiden Emirat Falconers Club mengatakan, falconry bukan hanya seni berburu, lebih dari itu, falconry merupakan warisan budaya. “Falconry tidak hanya berarti praktik berburu, tetapi merupakan warisan budaya sejak ribuan tahun lalu,“ ujarnya.

Senada dengan al-Bo wardi, Said Atiq al-Man sori, Ketua Falconry Uni Emirat Arab, mengatakan bahwa tradisi falconry telah turun temurun dari orang tua kepada anaknya.
Falconry dipelajari dari seorang anak dari kedua orang tuanya sejak lama karena itu falconry telah tertanam secara mendalam dalam diri sang anak yang kemudian diwariskan secara turun temurun,“ ujar al-Mansori.

Kent Carnie, seorang falconer pendiri Archives of Falconry World Center for Birds of Prey di Boise, Idaho, Amerika Serikat, mengatakan, dirinya pun belajar berburu dengan elang dari ayahnya. “Saya belajar dari ayah dan kakek saya dan hal ini sudah turun temurun dalam keluarga kami selama 200 tahun,“ kata dia.

Pada 2010, falconry didaftarkan dalam Warisan Budaya Manusia Tak Benda UNESCO oleh banyak negara seperti Uni Emirat Arab, Maroko, Qatar, Arab Saudi, Suriah, Belgia, Republik Ceska, Peancis, Mongolia, Spanyol, dan Korea Selatan. Akhirnya, pada November 2010, falconry pun menjadi salah satu warisan budaya tak benda yang diakui dunia.
“Falconry memenuhi tiga persyaratan sebagai warisan budaya tak benda,“ kata Katalin Bogyay, perwakilan dari Konferensi Umum UNESCO.

Sementara itu, Terry Large, anggota Britain's Hawk Board, mengatakan, pengakuan dari UNESCO tersebut membuat falconry menjadi dikenal oleh publik. “Namun, di negara-negara Eropa, ada pembatasan apa yang harus berburu oleh para falconer,“ ujarnya.

Saat ini, falconry mulai murni dipraktikkan sebagai olahraga. Di UEA, burung elang dan houbara merupakan hasil penangkaran yang dilepas ke alam liar setelah dilengkapi dengan sistem pelacak satelit untuk memantau dan mempelajari pola migrasi serta perkembangbiakan mereka secara alami. Selain terdapat banyak fasilitas penangkaran burung elang, UEA juga merintis pendirian sejumlah rumah sakit spesialis burung elang yang dilengkapi dengan teknologi modern terbaru yang memungkinkan melakukan prosedur pengobatan rumit terhadap elang seperti anestesi penuh dan endoskopi untuk pembedahan.

Di Banyan Tree al-Wadi, Ras alKhaimah, Abu Dhabi, UEA terdapat pusat falconry yang didirikan dengan tujuan untuk memberikan pengetahuan kepada para pengunjung tentang sejarah falconry di jazirah Arab.
Mereka membuat program kursus falconry yang pertama di Timur Tengah, mengajar para siswanya mengenai prinsip-prinsip peternakan dan pelatihan burung pemangsa. Di lokasi tersebut terdapat juga sebuah laboratorium dan tempat penangkaran burung dengan tujuan untuk melepaskan kembali spesies elang asli ke alam liar.

Namun, dalam perkembangannya falconry mendapatkan tekanan dan kecaman dari dari para aktivis perlindungan hewan internasional. Selain itu, terdapat kontroversi apakah falconry merupakan olahraga atau seni.
“Jika Anda menyebut falconry sebagai seni, silakan atau sebagai olahraga, silakan. Tapi falconry lebih dari sekadar itu,“ ujar Larry Dickerson, presiden Asosiasi Falconer Amerika Utara. Menurutnya, jumlah falconer saat ini 65 ribu, terbesar ada di Timur Tengah Tengah, Cina, dan Pakistan.

Olahraga falconry memang tak sepopuler dahulu sebagai cara berburu.
Berburu dengan elang mulai ditinggalkan sejak ditemukannya senapan.
Padahal, ribuan tahun lalu elang menjadi favorit. Pada abad 14, Sultan Ottoman Bayazid menangkap putra Philip Bold, adipati Burgundy. Bayazid menolak 200 ribu dukat emas yang ditawarkan sebagai tebusan. Bayazid justru menginginkan tebusan yang lebih berharga, yaitu 12 elang gyr putih yang ditawarkan Carl VI dari Prancis. Saat ini, harga seekor elang gyr mencapai 10 ribu poundsterling atau Rp 140 juta.

Sebuah Simbol Status Sosial

Awalnya adalah seorang raja Persia yang menyaksikan seekor burung elang membunuh burung lainnya. Sang raja kemudian memerintahkan anak buahnya untuk menangkap burung elang itu.
Konon, sang raja terus memelihara burung elang untuk mempelajari berbagai hal mengenai perburuan.
Itulah legenda falconer pertama yang dikisahkan naskah Arab kuno, meskipun di Cina penggunaan elang untuk berburu sudah muncul sejak tahun 680 sebelum Masehi.

Di Eropa, falconry pertama muncul pada abad ke-6 M, yaitu di suku-suku Jermania dan pada tahun 875, olahraga ini dipraktikkan secara luas di seluruh Eropa Barat dan Inggris. Periode antara tahun 500 sampai 1600 M merupakan puncak dari falconry di Eropa yang penyelenggaraannya telah diatur dengan rapi dan menjadi simbol status bagi kalangan kelas atas. Perburuan dengan elang tak hanya populer bagi kalangan bangsawan Eropa, bahkan kalangan agamawan. Paus Leo X (1475-1521) adalah penggemar burung elang pemburu. Di beberapa ordo Kristen, elang diikutsertakan dalam ibadat. Para suster atau biarawan sering terlihat bersama dengan elang piaraannya, sampai-sampai uskup mengeluarkan larangan membawa burung ke dalam gereja.

Di Eropa, elang untuk falconry didapat dengan menangkap burung-burung yang sedang migrasi, terutama di wilayah Skandinavia, Islandia, dan Greenland. Di Belanda, Desa Valkenswaard menjadi salah satu sentra penangkapan elang di Eropa. Tiap tahun, berbagai utusan dari raja-raja dan pangeran seluruh penjuru Eropa datang ke Valkenswaard untuk menawar burung elang yang paling cantik. Keluarga Mollen dari Valkenswaard mewarisi keahlian menangkap burung elang sampai keturunan terakhir tahun 1937.

Maka itu, falconry yang awalnya digunakan untuk sekadar mencari hewan liar, telah menjadi simbol status sosial di Eropa, bahkan perburuan dengan elang menjadi acara sosial. Para bangsawan bersaing dalam acara perburuan besar guna menunjukkan bahwa elang merekalah yang paling cakap. Raja Inggris, tsar Rusia, dan Kaisar Romawi Suci menyimpan banyak burung elang terbaik, bahkan mempekerjakan ratusan falconer untuk mengurus elang-elang itu. Falconry telah menjadi simbol gengsi negara.

Dengan perkembangan falconry, banyak aturan muncul yang justru mempersulit para falconer biasa. Di Inggris, kepemilikan burung elang hanya diperbolehkan untuk kelas sosial tertentu, bahkan termasuk aturan mengenai jenis kelamin burung. The Boke of Saint Albans yang ditulis Prioress pada 1486 menceritakan siapa saja nama tokoh dan jenis burung elang yang dimilikinya, mencerminkan betapa kaku aturan falconry di Inggris.

Aturan lain menyangkut penangkapan burung. Merusak sarang, telur, atau melukai elang muda diancam hukuman berat.
Menghancurkan telur elang diganjar satu tahun penjara. Menangkap elang dari alam liar sudah cukup untuk dijatuhkannya congkel mata sang pelaku. Memiliki burung yang hanya layak untuk orang berstatus sosial lebih tinggi dicap sebagai pemberontakan dengan hukuman potong kedua tangan. Hukuman-hukuman itu tentu saja cukup untuk membuat jera.

c38/saudi aramco ed: rahmad budi harto




Artikel Dan Berita Lainnya:



"Budaya Bangsa Arab: Falconry Melampaui Olahraga Dan Seni"

Twit This!
Budaya Bangsa Arab: Falconry Melampaui Olahraga Dan Seni Budaya Bangsa Arab: Falconry Melampaui Olahraga Dan Seni dengan url http://www.suaranews.com/2012/04/budaya-bangsa-arab-falconry-melampaui.html, Anda diperkenankan untuk menyebarkan jika Budaya Bangsa Arab: Falconry Melampaui Olahraga Dan Seni ini bermanfaat bagi semua teman-teman, jangan lupa untuk meletakkan link Budaya Bangsa Arab: Falconry Melampaui Olahraga Dan Seni sebagai sumbernya.

Posted by: Suaranews Admin on 12.06. Filed under , . Anda Bisa mengikuti berita melalui feed ataupun berkomentar dengan cepat RSS 2.0

0 komentar for Budaya Bangsa Arab: Falconry Melampaui Olahraga Dan Seni

Leave comment

BERITA TOP

selintas