• Stay Connected
  • /

Sebarkan jika bermanfaat:


Kiat Sukses Berwiraswasta

kiat sukses berwirausaha Profesionalisme dan proporsionalisme penting dikedepankan.

Ada banyak pintu rezeki. Tiap tiap anak Adam mendapatkannya dari pintu dan tentunya, cara yang berbeda-beda. Di antara jalan memperoleh rezeki ialah dengan cara berwiraswasta. Ragamnya pun bervariasi.
Mulai dari berdagang hingga bercocok tanam, atau bertani misalnya. Berwiraswasta pun dalam agama Islam dipandang amat mulia. Jauh lebih berharga ketimbang berpangku tangan atau bahkan memintaminta.

Suatu saat, seperti yang dikisahkan dalam riwayat Abu Dawud, seorang sahabat mendatangi Rasulullah SAW dan meminta uang atau makanan.
Beliau lantas menegurnya dan mengatakan, “Apakah di rumahmu, tidak ada apa pun?“.
Lelaki itu menjawab, “Ada, hanya sejumlah pakaian yang dipakai secara bergantian dan wadah air.“ Rasulullah pun meminta agar barang-barang tersebut dibawa ke hadapannya.

Permintaan itu pun dikabulkan oleh lelaki tersebut.
Rasulullah lantas mengambilnya untuk dijual. “Siapa yang hendak membeli dua barang ini?“ ucap Rasulullah menawarkan barang. Seorang sahabat menawarnya dengan satu dirham. “Siapa yang membeli dua dirham?“ kata Rasulullah. Sahabat lainnya berani menawar dua dirham.

Kemudian, dua dirham itu diberikan kepada pemiliki barang. Rasulullah mengatakan agar satu dirham dibelikan makanan untuk keluarganya. Sedangkan sisanya dibelikan karung. Perintah itu pun dilaksanakan. Rasulullah sendiri mengikat pemotong tersebut dengan sebuah tongkat dan menyuruhnya pergi mencari kayu untuk dijual.
“Jangan mendatangiku hingga 15 hari,“ kata Rasulullah.

Semua arahan Rasulullah dilaksanakan.
Lalu, ia mendatangi Rasulullah dengan mengantongi 10 dirham dari jerih payahnya. Dari penghasilan itu, ia membeli baju dan makanan buat keluarganya. Rasulullah bersabda, “Hal ini jauh lebih baik bagimu daripada mendatangkan masalah sebagai tanda di wajahmu kelak di hari kiamat. Sesungguhnya, masalah hanya pantas bagi tiga (golongan): miskin sangat, terlilit utang, dan terserang penyakit menahun.” Islam mendorong produktivitas bekerja dan berusaha secara mandiri. Kreativitas menciptakan lapangan pekerjaan sendiri, juga dilakukan oleh para nabi. Hampir sebagian besar para nabi, konon memiliki kegiatan menggembala domba sebagai mata pencaharian. Karena itulah, berwirausaha dan membuka peluang kerja secara mandiri, ditekankan dalam Islam.

Allah SWT berfirman: “Dan, carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi.” (QS al-Qashash [28]: 77).

Allah juga menyerukan agar hamba-Nya aktif mengekspolarasi pintu rezeki yang pada dasarnya telah tersedia. Hal ini sebagaimana terdapat dalam ayat berikut, “Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya. Dan, hanya kepadaNya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.” (QS al-Mulk [67]: 15).

Para sahabat tengah bercengkerama bersama Rasulullah suatu pagi. Kisah ini sebagaimana dinukil dalam hadis riwayat AtThabrani. Mereka melihat seorang sahabat yang sangat gesit dan kuat hendak bekerja. Mereka pun takjub melihatnya. Para sahabat mengatakan seandainya kekuatan sahabat itu digunakan untuk berjuang di medan perang, akan lebih baginya. Rasulullah pun lantas menjelaskan jenis-jenis aktivitas yang baik, yaitu bila ia keluar untuk menghidupi anak-anaknya yang masih kecil, ia berada di jalan Allah. Dan, bila ia bekerja untuk kedua orang tuanya yang lanjut usia, ia juga berada di jalan Allah, tetapi bila riya, ia berada di jalan setan.

Profesional dan proporsional Agar kegiatan berwiraswasta tetap mendapat berkah, ada beberapa hal yang penting diperhatikan. Pertama, bagi seorang Muslim, mencari rezeki apa pun caranya, tak boleh tergelincir niatnya.
Niat yang utama ialah sebagai media untuk beribadah kepada Allah. Pentingnya niat, ditekankan dalam hadis riwayat Umar bin Khatab. “Sesungguhnya setiap amal perbuatan bergantung pada niatnya.“

Kedua, tidak menunda-nunda pekerjaan dan menyia-nyiakan peluang. Bila peluang baik datang di pagi hari, hendaknya kesempatan itu dijemput tepat waktu.
Apalagi, sebagian keberkahan datang di pagi hari.
Hal ini sebagaimana diriwayatkan Turmudzi, Ibnu Majah, dan Abu Dawud.

Ketiga, mengedepankan profesionalisme kerja. Tiap-tiap pekerjaan yang ada di hadapannya dikerjakan dengan totalitas dan kesungguhan. Dengan demikian, akan membuahkan hasil yang maksimal. Hadis riwayat Al Baihaqi menyatakan demikian. Rasulullah pernah bersabda bahwa sesungguhnya Allah menyukai hamba yang bersungguh-sungguh mengerjakan pekerjaannya.

Dan keempat, tetap proporsional. Bekerja boleh, tetapi tidak menghilangkan porsi beribadah kepada Allah. Kesibukan berusaha mencari nafkah, bukan berarti lantas melalaikan perintah agama. Termasuk, dalam kategori ini, berbisnis di sektor yang dilarang oleh agama.
“Maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya. Dan, hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.“ (QS al-Mulk [67]: 15). n

Oleh: Nashih Nashrullah




Artikel Dan Berita Lainnya:



"Kiat Sukses Berwiraswasta"

Twit This!
Kiat Sukses Berwiraswasta Kiat Sukses Berwiraswasta dengan url http://www.suaranews.com/2012/04/kiat-sukses-berwiraswasta.html, Anda diperkenankan untuk menyebarkan jika Kiat Sukses Berwiraswasta ini bermanfaat bagi semua teman-teman, jangan lupa untuk meletakkan link Kiat Sukses Berwiraswasta sebagai sumbernya.

Posted by: Suaranews Admin on 11:15. Filed under , . Anda Bisa mengikuti berita melalui feed ataupun berkomentar dengan cepat RSS 2.0

0 comments for Kiat Sukses Berwiraswasta

Leave comment

BERITA TOP

selintas