• Stay Connected
  • /

Sebarkan jika bermanfaat:


Menjalin Hubungan Asia Dan Eropa Dengan Kain Timur Tengah

mengenal kain dari timur tengah asia dan eropa Ketika banyak terjadi aksi perompakan di kawasan Mediterania, bangsa Eropa mulai mencari jalur pelayaran baru sehingga bisa mengimpor langsung kain dari India, Indocina, dan Cina, tanpa harus membeli dari pedagang Arab.

Manusia pra seja rah me ngenal pakaian pertama dalam bentuk kulit hewan yang dijahit secara sederhana.
Peradaban berkembang dan manusia mulai mengenal benang dari bahan wol yang diambil dari kulit domba sekitar 8.000 tahun lalu di wilayah Timur Dekat atau sekitar Turki saat ini. Ketika peradaban maju mulai muncul di kawasan Timur Tengah, seperti Mesopotamia (Irak) dan Mesir, mulailah digunakan pakaian yang dibuat dari serat berbagai tanaman, seperti papirus, kulit pohon, atau tanaman alang-alang. Peradaban kuno di India dikenal sebagai kelompok manusia pertama yang memakai kain dari kapas atau populer dengan nama katun yang kemudian menyebar ke peradaban kuno lain, seperti Mesir dan Cina, lewat perdagangan laut.

Bangsa Eropa baru mengenal kain katun pada abad pertama Masehi, kain bernama Muslin dibawa oleh para pedagang Arab ke Italia dan Spanyol. Katun yang dibuat oleh orang-orang Arab itu sebenarnya didapatkan dari kapas yang ditanam di India.
Ketika peradaban Islam mulai muncul dan berkembang di Jazirah Arab, kain katun diperkenalkan ke Eropa lewat penaklukan Spanyol.

Kain produksi Timur Tengah yang terkenal di Eropa ketika itu adalah gauze, muslin, fustian, sendal, buckram, damasks, brokat, taffetas, tabbies, tarlatan, dan satin. Di Spanyol, orang Moor pun memperkenalkan penanaman kapas pada abad kesembilan.
Lalu, kasin fustian dan dimities mulai ditenun di Spanyol.
Industri penenunan kain kemudian diperkenalkan ke Venesia dan Milan di Italia pada abad ke-14, awalnya dengan benang linen. Sebelum abad ke-15, benang dari Timur Tengah sudah diimpor oleh Inggris meskipun awalnya hanya untuk sumbu lilin.

Pada abad ke-13, dalam beberapa catatan Inggris muncul kisah mengenai kain dari Timur Tengah, seperti gauze, muslin, fustian, dan sendal. Gauze adalah kain yang berasal dari sutra. Bentuknya tipis dan transparan dan tipis. Pertama kali disebutkan pada 1279 dengan nama gazzatum. Gauze berasal dari Kota Gaza di Palestina dan merupakan kain terkenal yang dipakai Cleopatra untuk menutupi tubuhnya atas perintah Yulius Caesar ketika ia mengunjungi Roma pada 43 SM. Jika dahulu gauze terbuat dari sutra, namun saat ini gauze terbuat dari kapas.

Muslin adalah kain yang terbuat dari kapas. Kata “muslin“ diambil dari nama Kota Mosul di Irak, tempat pertama kali muslin dibuat.
Menurut penjelajah Italia Marco Polo, muslin adalah kain sutra dari emas. Selama beberapa abad, muslin terkenal sebagai bahan katun halus seperti bahan sutra.

Lalu, kain fustian berasal dari Fustat, Kairo, tempatnya diproduksi. Fustian merupakan kain sejenis linen dan katun. Fustian tidak sehalus muslin karena dalam kain fustian terdapat campuran kapas dan rami. Fustian pertama kali disebutkan dalam catatan Trinity College pada 1200 dan 1502 dalam akun rekening pengeluaran rahasia Elizabeth dari York, istri Raja Henry VII yang berkuasa di Inggris.

Sendal berasal dari Yunani. Ia merupakan kain linen halus yang digunakan untuk kain kafan. Sendal pertama kali disebutkan pada 1225 dan 1523. Kemudian, buckram atau linen pertama kali disebutkan pada 1222. Asal kata “buckram“ dari “bukhara“ atau berasal dari kata “qiram“ dalam bahasa Arab yang berarti permadani. Atau mungkin dari kata “kirim“ dalam bahasa Turki yang berasal dari “krimea“.

Damask adalah salah satu bahan baru terakhir dari Timur Tengah. Berasal dari Damaskus, kain damask lebih mahal dibandingkan dengan kain lainnya. Sedangkan, brokat diperkenalkan pada pertengahan abad ke-16. Pada abad ke-14, kain yang berasal dari Timur Tengah membanjiri Eropa sebagai akibat dari Perang Salib pada abad-abad sebelumnya. Benturan peradaban ternyata juga membawa efek samping berupa pertukaran budaya dan ekonomi. Bahan mewah dari Timur Tengah, seperti satin dan taffeta, mulai muncul, juga damask dan brokat.

Satin berasal dari kata “zaituni“ dalam bahasa Arab yang dipakai sebagai julukan untuk Kota Quanzhou di Cina.
Kota pelabuhan di Provinsi Fujian ini merupakan salah satu pusat perdagangan terbesar pada abad pertengahan yang sering disinggahi pedagang Arab dan Persia. Ada pendapat lain yang mengatakan satin berasal dari kata Cina, “sze-tun“ atau “ssutuan“ yang berarti sutra halus.
Sedangkan, taffeta adalah untuk sutra mengilap polos maupun berwarna. Istilah itu berasal dari kata Persia, “taftah“, yang berarti kain sutra yang bersinar.

Sutra selalu menjadi kain favorit. Meskipun didapatkan dari Timur Tengah, nama sutra (silk) diperkirakan berasal dari kata “seres“ dalam bahasa Yunani. Kain tabby seperti taffeta. Tabby atau attabiya adalah sutra dan katun dalam berbagai warna. Tabby diambil dari kata “attabiy“ di Baghdad tempat kain itu dibuat.

Kain camlet muncul di Barat pada abad ke-14. Namanya dikaitkan dengan unta karena berasal dari kata “khamilah“ dalam bahasa Arab yang berarti kain. Camlet umumnya berwarna merah.
Kain cypress berasal dari Siprus yang digunakan untuk berkabung. Ketika penyair Inggris awal abad ke-19 Lord Byron datang ke Pulau Siprus, ia dikejutkan oleh jubah hitam panjang yang dipakai seorang perempuan. Ia diberi tahu bahwa jubah hitam itu untuk berkabung atas kekalahan tentara Kristen dalam Perang Salib.
Impor menurun Abad ke-14 menandai masa suram perdagangan Arab dan Eropa. Setelah Perang Salib berakhir, benturan antara Eropa dan Arabia diganti dengan munculnya aksi perompakan di Mediterania setelah Spanyol direbut kembali oleh Eropa dari tangan bangsa Moor. Untuk menyiasatinya, bangsa Eropa kemudian mencari rute pelayaran menuju Asia Timur dengan memutari Benua Afrika. Itulah awal mula terjadi penurunan kuantitas kain yang diimpor Eropa dari Timur Tengah. Sejak saat itu, Eropa banyak mengimpor kain secara langsung dari wilayah Timur Jauh, seperti dari India, Persia, Indocina, dan Cina. Muncullah saingan kain yang berasal dari Timur Tengah, seperti bombazine, calico, chintz, percale, dan gingham.

Bombazine muncul pertama kali di Inggris pada 1555.
Namanya berasal dari kata “bombyx“, bahasa Yunani untuk ulat. Sedangkan, Calico adalah salah satu bahan yang pertama tiba dari Timur yang berasal dari Kota Calicut di pantai Malabar India yang merupakan salah satu pelabuhan utama dalam jalur perdagangan Eropa dan Timur Tengah menuju ke Cina.

Kain Calico terbuat dari kapas biasa disebut belacu atau katun putih polos. Calico sangat populer, terutama pada abad ke-19 di Amerika. Bahan kain lainnya adalah chintz yang berasal dari Chint Hindi dengan karakteristiknya adalah bunga dan burung, serta kain percale yang pertama kali didatangkan dari Hindia Timur pada abad ke-17. Asal kata “percale“ diperkirakan dari kata “parqali“ yang berarti kain dalam bahasa Persia. Terakhir, gingham yang berasal dari Melayu. Gingham banyak digunakan pada abad 19 untuk rompi dan payung. Kainkain tersebut banyak digunakan untuk dekorasi interior, tempat tidur, dan hiasan kamar tidur.

Kenaikan produksi tekstil murah di Barat akibat penemuan mesin tenun juga berimbas pada produksi kain dari Timur Tengah. Inggris mulai memakai wol dan korduroi, sementara di Prancis menggunakan bahan crepes, voile, chiffons tule, dan denim. Setelah mampu memproduksi sendiri, Eropa tidak lagi menggunakan kain-kain dari Timur Tengah.

Ciri Khas Tekstil Timur Tengah

Dari beragam seni yang berkembang di Timur Tengah, tekstil memainkan peran sangat signifikan dalam masyarakat yang terus berkembang pada periode berikutnya. Tekstil ketika itu banyak digunakan sebagai pakaian dan arsitektur tenda.
Pembuatan dan perdagangan industri tekstil berawal dari tradisi Bizantium (Romawi Timur) dan Sasanian (Persia) yang terbuat dari sutra, benang emas, dan perak.

Tekstil merupakan barang mewah yang menandakan kekayaan dan status sosial. Tak jarang tekstil mencerminkan keagungan raja dan kekayaan mereka, bahkan menjadi hadiah atau upeti. Tekstil Timur Tengah banyak yang diekspor ke Barat seperti katun, taffeta, dan seersucker. Agar berwarna, tekstil Timur Tengah ketika itu sering dicelup hingga kemudian teknologi berkembang dengan baik, sehingga tekstil Timur Tengah terkenal karena desainnya yang rumit dan kaya warna.

Salah satu tipe yang paling umum dari tekstil Timur Tengah adalah hiasan dengan pita panjang yang bertuliskan nama dan judul dari penguasa, serta tanggal, dan tempat pembuatan. Salah satu kain tekstil yang dikenal sebagai Tiraz diawetkan di Los Angeles County Museum of Art. Tiraz sendiri berasal dari kata Persia yang berarti bordir, sebuah teknik yang dikenal dalam tenunan permadani.

Motif tekstil Timur Tengah umumnya dekoratif. Tekstil dari Persia, misalnya, lebih banyak bergambarkan burung, singa, phoenix, elang, tulip, lili air, berburu, berkuda, dan desain abstrak.
Sedangkan tekstil dari Turki terpusat di Anatolia di mana beberapa tekstil terbaik di dunia ditenun di Konya dan Usak. Tekstil dari Turki juga sama dengan Persia, bersifat dekoratif berupa gambar artistik tumbuh-tumbuhan seperti bunga.n c38/saudi aramco ed: rahmad budi harto




Artikel Dan Berita Lainnya:



"Menjalin Hubungan Asia Dan Eropa Dengan Kain Timur Tengah"

Twit This!
Menjalin Hubungan Asia Dan Eropa Dengan Kain Timur Tengah Menjalin Hubungan Asia Dan Eropa Dengan Kain Timur Tengah dengan url http://www.suaranews.com/2012/05/menjalin-hubungan-asia-dan-eropa-dengan.html, Anda diperkenankan untuk menyebarkan jika Menjalin Hubungan Asia Dan Eropa Dengan Kain Timur Tengah ini bermanfaat bagi semua teman-teman, jangan lupa untuk meletakkan link Menjalin Hubungan Asia Dan Eropa Dengan Kain Timur Tengah sebagai sumbernya.
Posted by: Suaranews Admin on 11:15. Filed under , . Anda Bisa mengikuti berita melalui feed ataupun berkomentar dengan cepat RSS 2.0

0 comments for Menjalin Hubungan Asia Dan Eropa Dengan Kain Timur Tengah

Leave comment

alt/text gambar alt/text gambar >

Recent Entries

BERITA TOP

selintas