Latest News
26 March 2013

Kupas, Partai Demokrat, Anas Dan Loyalis Anas vs PKS

anas urbaningrum jadi tersangka belum diperiksa kpk

Sebanyak dua ribu lebih loyalis Anas hengkang dari Demokrat, mereka memilih merapat ke lima partai besar, ‘’ada ke PKS, PDIP, Gerindra, Hanura, Golkar. Yang mereka pilih lima parpol besar”. seperti dirilis oleh merdeka.com. Ini menunjukan tingkat kesolidan partai sangat lemah, masih berpusat pada figure.

Beda halnya dengan PKS, ketika LHI terjerat kasus dugaan suap kuota impor daging sapi, dan diganti dengan Anis Matta secara cepat. Adakah terdengar cerita ribuan kader PKS mengundurkan diri, yang terjadi adalah banyak yang masuk ke partai dan akar rumput tetap teguh, bahkan mampu memenangkan dua pemilihan gubernur, di saat yang lain masih babak belur.

Maka ada perbedaan mekanisme, PKS tidak berpusat pada figure, tapi pada ikatan ideology, kenapa saya katakan itu, contohnya sejak PKS berdiri, banyak tokoh yang hengkang dari PKS, tapi apakah mereka berpindah partai, ternyata tidak, yang dahulu memutuskan pindah, mereka tetap menjadi simpatisan.

kalaupun ada pengecualian, itu dapat dihitung jari. Logikanya ketika banyak yang keluar, harusnya suara PKS turun, tapi di setiap pemilu selalu naik, itu tandanya tokoh yang keluar tetap jadi simpatisan, ataupun pendukung tokoh tidak ikut pindah, mereka simpati pada pribadi tokoh itu, tapi tetap jadi simpatisan PKS.

Kenapa itu terjadi, sebab mekanisme di dalam tubuh PKS diikat oleh ideologi, bukan oleh figure, figur boleh datang dan pergi tapi ikatan ideology akan tetap menyatukan, dan bahwa setiap orang boleh berbeda, tapi perbedaan itu sifatnya ijtihadi (dalam masalah yang bukan prinsipil).

Perbedaan itu sifatnya ‘tanawu’, atau beda yang tidak kontra, bukan beda secara ‘tadhad’ atau beda yang kontra, lantas bagaimana dengan Yusuf S, kalau kita lihat yang ia serang bukan mekanisme partai, tapi pada individu.

PKS melihat setiap individu bisa melakukan kesalahan, tidak ada yang sempurna, tapi pembuktian individu itu bersalah atas tuduhan itu atau tidak, didasarkan pada bukti, jadi yang diminta dari Yusuf S adalah buktinya, pun dengan kasus LHI, dan ketika ternyata bersalah tidak lantas dibela mati-matian bahwa ia benar.

Dan setiap individu itu diikat landasan ideologis partai; Quran dan Hadits dan AD/ART, maka tidak heran jika Anis Matta mengatakan, bahwa individu adalah bagian dari strategi dan bukan strategi bagian dari individu, arti strategi bukanlah perebutan kekuasaan, tapi bagaimana mengimplementasikan landasan ideologis ke dalam realitas.

Dan jika banyak asumsi bahwa PKS lupa landasan ideologisnya, itu adalah resiko berpolitik, banyak trik dan intrik, dan ketika tersimpang dari tujuan awal, PKS punya mekanisme evaluasi dan pembelajaran, dari tingkat atas hingga akar rumput, bahkan itu tidak dilakukan sekali dua kali, tapi setiap pekan. Proses itu dilakukan dengan system liqo.

Apakah individu adalah bagian dari strategi dan bukan strategi bagian dari individu itu artinya partai mengkerangkeng individu dan anti demokrasi, sama sekali tidak, sebab ideologi PKS, mengajarkan bahwa dalam masalah politik, perubahan itu adalah sebuah kemestian, sama seperti fatwa yang bisa berubah dengan pergantian waktu dan zaman, jadi dalam masalah politik, atau bahasa internalnya, dalam masalah muamalah dan mutaghayirat, bukan dalam masalah prinsipil, setiap kader boleh mengusulkan dan menyampaikan ide dan gagasan, bahkan di setiap pekan, yang kemudian itu disampaikan ke atas.

System pekanan di PKS tidak putus, tapi berjejaring hingga pusat, sehingga setiap kader tidak khawatir bahwa idenya akan terbuang sia-sia, dan tidak sampai, jadi ada dinamika demokrasi di internal.

Bagaimana kalau kebijakan salah, PKS punya waktu untuk evaluasi, di setiap pekan, dan setiap kader ikut berfikir bagaimana memperbaiki kesalahan itu, jadi setiap orang dianggap sebagai part of solution. Tapi sekali lagi kebenaran tidak dimonopoli individu, dalam internal akal kolektif lebih baik dari akal individu, dan akal kolektif, tidak bisa mengalahkan dua landasan ideology partai; Quran dan Sunah, maka kemudian akal individu dan akal kolektif mesti berinteraksi secara intens dengan dua landasan partai. Agar tetap berdinamika yang terarah.

Tapi apakah dua landasan itu mengkerangkeng individu untuk berfikir dan berdinamika, sama sekali tidak, lihatlah apa yang terjadi sepanjang sejarah, jumlah ayat dalam al-quran dan jumlah hadits tidak mencapai jutaan, tapi penafsiran manusia ada milyaran jilid dan lembar, bahkan dengan beragam corak.

Itu menunjukan, walau jumlah landasan itu sedikit, tapi tidak mengkerangkeng seseorang, maka tidak ada yang khawatir bahwa landasan itu akan memenjarakan akal individu dan kolektif, tapi landasan itu akan membuat individu tetap idealis tapi realistis dalam menyikapi zaman yang cepat berubah.

Judul Asli: Anas, Loyalis Anas dan PKS
Penulis: Adi Andriana
Sumber: Kompasiana

  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 comments:

Post a Comment

Item Reviewed: Kupas, Partai Demokrat, Anas Dan Loyalis Anas vs PKS Rating: 5 Reviewed By: Suara Berita