• Stay Connected
  • /

Sebarkan jika bermanfaat:


Korupsi Uang Gereja, Pendeta Bethany Surabaya Dimintai Laporan Keuangan

Pdt Abraham Alex Tanuseputra

Pdt. Abraham Alex Tanuseputra, dalam jabatan sebagai Ketua Umum Majelis Pekerja Sinode Periode 2003-2007, diminta mempertanggungjawabkan kegiatan gereja, keuangan, inventaris dan aset masa pelayanan 2003-2007. Kamis, tanggal 4 April 2013, hari yang dipilih pengacara Pdt Leonard Limanto M. Th, untuk menunggu niat baik pria kelahiran Mojokerto, 1 Juni 1941, menyerahkan Laporan keuangan periode itu, untuk dilaporkan kepada jemaat Bethany.

Demikian dinyatakan Advokat Eku Yanuar Putra SH, MH dan Zamroni, SH,MH, kepada Surabaya Pagi, di kantornya, Minggu sore (31/3). “Kami berpikir positive Pendeta sebesar Pak Abraham Alex, mau menunjukkan itikad baik untuk menaati aturan organisasi gereja mempertanggungjawabkan laporan keuangan dari jemaat. Jemaat akan senang bila dalam pengelolaan hasil persepuluhan dan lain-lainnya dilakukan secara transparan dan akuntable,’’ ingat dua advokat muda, yang menjadi kuasa hukum Pdt. Leonard Limanto.

Yanuar dan Zamroni berharap Pdt Abraham Alex Tanusaputra, bersedia kooperatif memenuhi permintaan para pendiri badan hukum Gereja Bethany yang dipimpin oleh Pdt. Leonard Limanto, M.Th. Mengingat, Laporan keuangan pengelolaan gereja masa pelayanan 2003-2007, semasa Pdt Abraham Alex menjabat Ketua Umum Majelis Pekerja Sinode Gereja Bethany, bukan untuk kepentingan pribadi Pdt. Leonard, tetapi untuk disampaikan ke jemaat, sekaligus menghindari simpang siur suara di masyarakat, kemana saja uang persepuluhan dan digunakan apa saja.

Dijelaskan, ia sudah melayangkan somasi kepada Pdt Abraham Alex dan diterima oleh staf pengelola Gereja Bethany, Windi, pada hari Sabtu siang tanggal 30 Maret. Somasi ini didasarkan fakta hukum bahwa sampai saat ini, pendiri dan pengurus Badan Hukum Gereja Bethany dipimpin oleh kliennya. Fakta hukum ini didasarkan atas pengesahan dari Dirjen Bimbingan masyarakat Kristen Departemen Agama Republik Indonesia No : DJ.III/Kep/HK.00.5//5/158/2003, berdasarkan akte pendirian No. 2 tanggal 11 Desember 2002 di notaries Winarko, SH.

Dua advokat ini mengakui melanjutkan tugas dari rekan sejawatnya, George dan Richard, yang mengundurkan diri sebagai pengacara Pdt. Leonard. ‘’Sebelum kami menerima kuasa dari Pdt Leonard, Pak Pdt Abraham pernah dilaporkan secara pidana ke Polda dengan dugaan melakukan penggelapan dalam jabatan yaitu pasal 374 KUHP. Atas saran beberapa pendeta, Pak Leonard diminta mencabut laporan pidananya. Maka itu, klien kami mengikuti saran sejumlah pendeta untuk meminta pertanggungjawaban Pdt Abraham Alex secara organisatoris dulu,’’ ingat Yanuar dan Zamroni.

Advokat Yanuar maupun Zamroni mengharapkan, karena bersengketa adalah sesama pendeta yang dikenal luas oleh jemaat Bethany, somasinya mendapat perhatian serius dari Pendeta Abraham Alex. ‘’Toh yang membuat laporan keuangan bukan Pak Alex pribadi. Dia kan punya team manajemen. Apalagi ini dana dari jemaat yang jumlahnya ratusan ribu. Masak era transparansi seperti saat ini masih ada sebuah lembaga yang tidak menyusun laporan keuangan organisasi dengan tepat waktu dan dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya,’’ dua advokat ini mengingatkan.

Bagaimana bila somasinya tidak ditanggapi, karena advokat Pdt. Leonard sebelumnya, meski telah melayangkan sampai dua kali, belum ditanggapi, sehingga sebagai pendiri dan pengurus Gereja Bethany, Pdt. Leonard, belum bisa meneruskan ke jemaat Gereja Bethany. “Kalau undangan kami tanggal 4 April tidak dihadiri, kita sudah ada opsi-opsi lain. Tapi saya husnuhdon yaitu berprasangka baik, Pak Pendeta Abraham Alex, juga mau beritikad baik menyelesaikan tuntutan yang diminta Pendeta Leonard. Mereka kan dulu kawan baik. Sesama pemuka agama mbok islah atau berdamai dan menyiapkan laporan keuangan masa pelayanan 2003-2007. Clear, sehingga tidak perlu maju ke rana hukum pidana maupun perdata,’’ tambah Yanuar dan Zamroni.

Baik Pdt. Abraham Alex maupun Pdt Leonard Limanto, sama-sama pernah memimpin kebhaktian jemaat di gereja Bethany. Gereja ini bernama Graha Bethany di Jalan Nginden, Surabaya, yang konon mampu menampung 35.000 orang jemaat untuk sekali ibadat. Gereja Bethany Nginden ini dianggap sebagai gedung gereja terbesar di Asia Tenggara. Di area gereja ini terdapat kawasan pemukinan yaitu terletak di belakang hall gereja. Kawasan pemukinan ini steril, karena dihuni oleh Keluarga besar Pdt. Abraham Alex, kecuali anak perempuannya Pdt. Hanna Isti. Mengingat, Pdt. Hanna Isti, ibu kandung Miss Indonesia Tahun 2008, Sandra Angelia, berumah sendiri dengan Pdt. Dr. Yusak Hadisiswantoro, MA, di perumahan elite Citraland Surabaya. Rentetan dengan konflik Pdt Abraham vs Pdt. Leonard, menurut sumber di Bethany, keluarga Pdt Abraham Alex, melaporkan Pdt. Yusak, ke kepolisian, dituduh menggelapkan enam sertifikat milik Gereja Bethany.(sp)




Artikel Dan Berita Lainnya:



"Korupsi Uang Gereja, Pendeta Bethany Surabaya Dimintai Laporan Keuangan"

Twit This!
Korupsi Uang Gereja, Pendeta Bethany Surabaya Dimintai Laporan Keuangan Korupsi Uang Gereja, Pendeta Bethany Surabaya Dimintai Laporan Keuangan dengan url http://www.suaranews.com/2013/04/korupsi-uang-gereja-pendeta-bethany.html, Anda diperkenankan untuk menyebarkan jika Korupsi Uang Gereja, Pendeta Bethany Surabaya Dimintai Laporan Keuangan ini bermanfaat bagi semua teman-teman, jangan lupa untuk meletakkan link Korupsi Uang Gereja, Pendeta Bethany Surabaya Dimintai Laporan Keuangan sebagai sumbernya.

Posted by: Suaranews Admin on 08.52. Filed under , . Anda Bisa mengikuti berita melalui feed ataupun berkomentar dengan cepat RSS 2.0

0 komentar for Korupsi Uang Gereja, Pendeta Bethany Surabaya Dimintai Laporan Keuangan

Leave comment

indoislamicstore

alt/text gambar gerai mueeza alt/text gambar alt/text gambar alt/text gambar alt/text gambar

BERITA TOP

selintas