• Stay Connected
  • /

Sebarkan jika bermanfaat:


Ramai Menda’okan UJE, Oknum Syabab HTI Malah Mencela Dan Menghina Beliau

oknum syabab HTI menghina almarhum uje
oknum syabab HTI menghina almarhum uje2

Innalillahi... hanya kata ini yang terucap pada akhlaq seorang oknum syabab HTI yang malah menghina da'i kondang tersebut (UJE).


Matinya akhlaq oknum Syabab HTI kepada seorang yang mestinya kita hormati lantaran aktivitas dakwahnya dan juga sebagai seorang muslim yang telah meninggal. Sehingga banyak sekali yang menyayangkan sikap yang Oknum Syabab HTI yang tidak beradab terhadap sebagaimana adab Islam kepada orang yang sudah meninggal, apalagi seorang da’i yang dihormati banyak kalangan.


Islam sangat memandang ketinggian akhlaq, bahkan kepada seorang yang telah meninggal.


Apakah oknum Syabab HTI ini tidak pernah diajarkan mengenai adab membicarakan orang yang telah meninggal?


Diriwayatkan oleh Imam Nasa’I dengan sanad yang shahih dari Aisyah, beliau mengatakan, “Ada seorang yang menyebut-nyebut aib orang yang sudah mati di dekat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bersabda, “Janganlah kalian menyebut-nyebut orang yang sudah meninggal di antara kalian kecuali dengan kebaikan.”


Atau


Diriwayatkan oleh Imam Turmudzi dengan sanad yang shahih dari Aisyah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik dengan keluarganya. Aku adalah orang yang paling baik terhadap keluargaku. Jika shahabat kalian meninggal dunia maka biarkanlah dia (jangan sebut-sebut kejelekannya).”


Umat Islam di Indonesia mengakui siapa Ustad Jeffry Al Buckhori, bagaimana kiprahnya dalam dakwah Islam beliau, terlepas dari beberapa kesalahan masa lalu atau bahkan dianggap tidak lulus pesantren karena itu apakah beliau dianggap bukan seorang ustad!?
Padahal, para sahabat dan bahkan Rasulullah SAW, sendiri bukan orang-orang yang lulus dari pesantren. Tetapi mereka adalah para ustad dan da'i yang menyeru kepada Islam. Dan tidak pernah menyeru kepada Khilafah dalam dakwahnya.


Selayaknya seorang alim harusnya kita hormati, apalagi ketika setelah kematian beliau.
Jangan sampai ashabiyah terhadap golongannya sendiri (Hizbut Tahrir Indonesia) lalu merasa bahwa tidak ada orang baik jika bukan dari HTI. Sungguh ini anggapan yang bathil dan ciri kaum khawarij yang nista.


Entah pola pengajaran seperti apa yang dipakai oleh Hizbut Tahrir Indonesia sehingga menelurkan seorang oknum yang lebih bersemangat terhadap syariah dan khilafah tetapi tidak mempunyai adab yang baik terhadap sesama muslim. Hingga sampai seorang yang alim (Insya Allah) dan telah meninggal harus di cela dan dihinanya.
Sungguh, kami umat Islam tidak rela jika seorang ustad sebagaimana almarhum UJE dicela oleh Oknum Syabab HTI tersebut. Selanjutnya, lihat kebawah:

situs hti tidak beritakan uje

Dan anehnya juga, berita yang hotnews mengenai meninggalnya UJE, yang merupakan juga termasuk seorang tokoh umat Islam, tidak terdapat di Situs Hizbut Tahrir Indonesia. Padahal seringkali berita-berita di situs mereka update dalam pemberitaan hal-hal berita umum.


Entah ada korelasi apa antara oknum Syabab HTI yang mencela dai kondang UJE, dengan situs HTI yang tidak memberitakan berita fenomenal pada hari Jum'at 26 April 2013 sekarang ini. Padahal jika dilihat terdapat update berita pada hari Jum'at tanggal 26. Sedangkan ketika kita cari di google dengan mengetik site:hizbut-tahrir.or.id pada beberapa keyword mengenai Ustad Jeffry, atau UJE, Ustad UJE, dsbnya. Kita tidak menemukan berita tersebut di google.

situs hti tidak beritakan uje2

Entah, bisa jadi setelah artikel ini dimuat, bisa jadi situs HTI akan memberitakan meninggalnya UJE. Untuk mengimbangi bengalnya oknum Syabab HTI yang menghina UJE tersebut. Semoga saja, dan kita harapkan seperti itu.


Harapan kami sebagaimana umat Islam yang lain, adalah terjaga dari mulut-mulut kasar oknum syabab HTI yang selalu membicarakan sesuatu yang membuat umat Islam mengelus dada atas ketidak beradaban dalam akhlaq seorang muslim. Padahal Rasulullah SAW membenci sikap-sikap seperti itu.


Ingatkah dengan para sahabat dan ulama terdahulu telah memberikan teladan tentang bagaimana menjaga lisan dari perkataan sia-sia dengan diam. Abu Bakar RA sampai meletakkan kerikil di dalam lisannya karena khawatir telanjur mengeluarkan kata-kata tidak berguna. Ketika ditanya, beliau menjawab sambil menunjuk lisannya, ‘‘Inilah yang menjerumuskan aku pada jurang kecelakaan.’‘


Semoga ayat ini menjadi pengingat bagi oknum syabab HTI tersebut yang sudah keluar rambu-rambu Islam:
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan berprasangka, karena sesungguhnya sebagian tindakan berprasangka itu adalah dosa. Janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah kamu sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang diantara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati ? Tentu kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang” [Al-Hujurat : 12]


Oleh: Abu Jaisy

Baca juga: Setelah Menghina UJE, Akun Facebook Oknum HTI Ngaku DiHack... Ramai Syabab HTI Nyalahkan Suaranews




Artikel Dan Berita Lainnya:



"Ramai Menda’okan UJE, Oknum Syabab HTI Malah Mencela Dan Menghina Beliau"

Twit This!
Ramai Menda’okan UJE, Oknum Syabab HTI Malah Mencela Dan Menghina Beliau Ramai Menda’okan UJE, Oknum Syabab HTI Malah Mencela Dan Menghina Beliau dengan url http://www.suaranews.com/2013/04/ramai-mendaokan-uje-oknum-syabab-hti.html, Anda diperkenankan untuk menyebarkan jika Ramai Menda’okan UJE, Oknum Syabab HTI Malah Mencela Dan Menghina Beliau ini bermanfaat bagi semua teman-teman, jangan lupa untuk meletakkan link Ramai Menda’okan UJE, Oknum Syabab HTI Malah Mencela Dan Menghina Beliau sebagai sumbernya.

Posted by: Suaranews Admin on 07:00. Filed under , . Anda Bisa mengikuti berita melalui feed ataupun berkomentar dengan cepat RSS 2.0

13 comments:

  1. semoga kita semua tetap dalam Jalan yg Baik...

    ReplyDelete
  2. Selamat jalan, Uje!
    Allahummaghfirlahu warhamhu wa'afihi wa'fu 'anhu

    ReplyDelete
  3. Hati-hati !
    Di dunia maya banyak provokator.
    1. Ada akun FB yg mengesankan diri sbg aktivis HTI, kmd membuat pernyataan yg isinya scr kasar menyerang PKS.

    2. Ada akun FB yg mengesankan diri sbg aktivis PKS, kmd membuat pernyataan yg isinya secara kasar menyerang HTI.

    Akhirnya, dua akun td “berperang”. Kmd akun2 lain (yg bs jadi asli) mjd ikut2-an “berperang”.

    Untuk memperkuat, kadang mereka tunjukkan bukti (screenshoot) bahwa ada kader HTI yg memfitnah PKS. Padahal akun yg ngomong "khilafah2" tsb blm tentu kader HTI. Dan yg "pura2" membela PKS jg belum tentu kader PKS.

    Akun-akun provokator tsb sangat mungkin PALSU. Mrk sengaja membuat adu-domba antara kader HTI dan PKS.

    Mmg, bersatunya HTI dan PKS, dua organisasi besar ini, sgt mgkn tdk diinginkan oleh musuh-musuh Islam. Oleh karena itu, sengaja dibuat adu-domba shg kader dua organisasi ini berseteru.

    Padahal, di dunia nyata, saya tahu betul :
    1. Kader2 HTI yang saya kenal perilakunya baik, tdk kasar dan ngawur spt akun2 FB provokator tsb.
    2. Kader2 PKS yang saya kenal perilakunya juga baik. Kalau bicara sopan dan santun. Diaiak diskusi juga baik tanggapannya.

    Selain itu, thd perbedaan pendapat dg sesama organisasi Islam, sikap HTI adl sbb :
    1. Tidak menyerang scr langsung di depan umum (menyerang organisasi Islam lain yg sifatnya menjatuhkan).
    2. Tapi mendatanginya secara khusus dan menyampaikan nasihat yg baik sebagai sesama muslim.
    Bahkan jika dipancing wartawan (yg mengarah kpd adu domba), mk HTI tdk akan melayani.

    Kesimpulan :
    Kader HTI dan PKS jangan sampai bisa diadu domba. HTI dan PKS adalah saudara di dalam dakwah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Memang bicara teori itu menyenangkan dan bagus. Tetapi nyatanya situs hizbut Tahrir Indonesia sendiri sering memuat berita fitnah mengenai PKS. Saya sendiri jika melihat dialog di Facebook tokoh HTI seperti Titok Priastomo, Adi Victoria, Farid Ma'ruf, juga sama sering melakukan penghinaan.

      Sebaiknya, kalau menulis yang bagus itu disertai juga contoh yang bagus. Jangan hanya karena ketahuan ada oknum HTI yang melecehkan ustad UJE, lalu dianggap bukan HTI.

      Lah, itu sikap oknum HTI itu memang meniru tokoh-tokoh HTI. Cuman lebih menyimpang saja, sampai mencela orang yang sudah meninggal apalagi seorang dai.

      Sebaiknya HTI belajar akhlaq dengan benar-benar, jangan hanya belajar khilafah saja. Dijaga lisannya, jangan ngumbar thoghut, kufur seenaknya udelnya dewe. Kayak Surga sudah di kapling sama HTI saja.

      Saya nyimpen banyak bukti juga kok. Syabab HTI dan situs HTI yang menfitnah, mencela umat Islam yang lainnya. Rubah itu dulu, baru rubah perilaku akhlaq syabab HTI. Barulah ada ukhuwah.

      Selama lisan gemar mencela HTI itu terus dipublikasikan di situs resminya, selama itupula seruan ukhuwah HTI hanyalah pepesan kosong.

      Delete
    2. Saran : Baik buktinya di share aja utk efaluasi bagi mereka.... kalau boleh saya minta dikirim bukti2nya dikirim ke email saya: hendro.arsitek@gmail.com..... Sukron Infonya

      Delete
  4. Monggo poro konco, kito tansah njogo ukhuwah islamiyah... Ora usah eker2an.. Ora becik..

    ReplyDelete
  5. Orang yang sudah meninggal tidak baik dipergunjingkan seperti ini. Ambil nilai positifnya saja, kan sama2 muslim juga. Masalah tentang semua pahala dan amalan itu hanya Allah yang tahu, bukan manusia yang menilai. So, pahamkan maksudnya??? :-)

    ReplyDelete
  6. Saya tidak kaget jika ada kader HTI yang melakukan perbuatan menghina dan mencela, karena memang di HTI ada ajaran untuk aktivitas mencela dan menghujat. Makanya mereka jadi seperti itu, bahkan ulama besar ahli hadits Indonesia saja dihina oleh kader HTI sebagai ulama su'. Lihat saja ajaran dan fatwa An Nabhani, pendiri HTI.

    "An-Nabhani berkata: “…semestinya aktivitas Hizbut Tahrir yang paling menonjol adalah aktivitas menyerang seluruh bentuk interaksi yang berlangsung antara penguasa dengan umat dalam semua aspek, baik menyangkut cara penguasa tersebut mengurus kemaslahatan, seperti pembangunan jembatan, pendirian rumah sakit, atau cara melaksanakan aktivitas yang meyebabkan penguasa tersebut mampu melaksanakan (urusan umat) seperti pembentukan kementrian dan pemilihan wakil rakyat. Yang dimaksud dengan penguasa di sini adalah pemerintah.”

    Kemudian an-Nabhani melanjutkan, “Oleh karena itu, kelompok berkuasa tadi seluruhnya harus diserang, baik menyangkut tindakan maupun pemikiran politiknya."

    Jadi, jangan kaget jika kader HTI gampang mencela dan menghina orang lain.

    ReplyDelete
  7. hadehh...memang sekarang ini banyak orang yang merasa benarnya sendiri...:(

    ReplyDelete
  8. Saya sendiri adalah kader HTI, dan saya sangat tdk sepakat dg status di akun FB yang tidak jelas tsb (bs jadi itu sengaja dibuat oleh provokator).

    Mari kita perkuat ukhuwah, jangan malah memperkeruh.

    ReplyDelete
  9. Saya selalu nggak habis fikir, kenapa disetiap facebook selalu saya menemukan Syabab HTI yang selalu berkata kasar, menulis dengan seenaknya sendiri. Semoga semua syabab HTI yang gampang seenaknya sendiri menuduh umat Islam yang lain dan seperti lagi mengkapling Surganya sendiri menjadi sadar, bahwa mereka bukan orang yang paling benar.

    HTI selalu lepas tangan jika ada syabab HTI yang berbuat onar. Padahal itu juga hasil didikan HTI sendiri yang gampang sekali menuduh orang lain. Lihat situs HTI, yang gampang menuduh umat Islam. Sekarang kena batunya, didikan HTI jadi nyeleneh semua.

    Kayak gini, paling-paling ngomong "FB saya kena Hack", omong kosong. HTI tukang tipu, saya nggak peracaya kalau ada orang HTI ngomong. Karena ngomongnya selalu dusta, lain di bibir lain dihati, MUNA semua orang HTI.

    ReplyDelete
  10. Maaf, untuk selanjutnya kami akan menutup komentar di postingan ini, karena sepertinya menjadi ajang perdebatan. Diatas hanya mengingatkan Oknum Syabab HTI. Dan diatas bukan Men-Generalisir Syabab HTI semuanya, tetapi hanya OKNUM. Terima kasih yang sudah berkomentar, dan maaf bagi yang akan komentar.

    ReplyDelete
alt/text gambar >

Recent Entries

BERITA TOP

selintas